ESTIMASI SEDERHANA AREA TERBANJIRI JIKA SUATU WADUK JEBOL*
17 Juni 2010 Tinggalkan Komentar
Artikel kali ini terinspirasi dari tugas pertama saya ketika saya masuk di dunia kerja reguler. Pada hari pertama masuk kerja, saya disuguhi atmosfir brainstorming untuk memecahkan secara cepat bagaimana memodelkan zona-zona yang rawan terbanjiri jika suatu waduk jebol. Kebetulan saya bergabung pada suatu badan pemerintah yang konsentrasinya pada kebencanaan.
Saya pun mengambil suatu awalan pemodelan. Pemodelan yang akan saya lakukan adalah bertumpu pada banyaknya (volume) air waduk tersebut. Saya belum sampai pemodelan untuk visualisasi gaya-gaya yang bekerja atas potensi energi dari volume tadi. Namun, saya mengasumsikan bahwa kejadian waduk jebol sebenarnya membuka fenomena berupa “migrasi” air ke tempat lain. Pertanyaan utamanya tentu dimanakah air tersebut akan menetap.
Estimasi sederhana yang terpikirkan dalam waktu yang singkat dan mirip jeda pengerjaan ujian semester ini pun menghasilkan logika hidrolika yang relatif nalar. Pemodelan tersebut terdiri dari 2 inti analisis meskipun kemudian berkembang.
Analisis pertama adalah membuat batasan cakupan sistem hidrolika yang melingkupi waduk tersebut. Proses ini sering juga disebut delineasi batas DAS (Daerah Aliran Sungai). Asumsi yang dipegang teguh pada proses yang pertama ini adalah suatu siklus hidrologi akan efektif bekerja atau berotasi pada
suatu area yang secara fisik telah memiliki pembatas dengan area di sekitarnya. Pembatas tersebut biasanya igir pegunungan atau perbukitan. Dengan asumsi tadi tentunya kemungkinan terjadi kontak atau “komunikasi” hidrologi dengan area sekitar diabaikan. Sebab, “misteri” di bawah tanah seperti struktur geologi sangat memungkinkan suatu DAS sebenarnya memiliki hubungan hidrologi dengan DAS di sampingnya atau lainnya.
Analisis kedua adalah memodelkan area mana saja yang akan terendam air dengan volume tadi. Analisis kedua ini dilakukan setelah yang pertama sebab dikandung pengertian bahwa air yang tumpah akan berhenti ketika menabrak penghalang. Sehingga penghalang tersebut tentunya perlu didefinisikan lebih awal. Kemudian dihitung dengan volume tadi dan keterangan variasi topografi serta cakupan area analisisnya (kehidrologiannya) mana saja yang akan tergenang. Atau secara teknis didekati dengan sampai elevasi berapa suatu area akan tergenang.
Pemodelan ini juga belum mengikutsertakan perhitungan resapan dan uapan.
*penulis, Febrio Sapta Widyatmaka, S.Si


